Hit - Counter:

040312

Latest News
TRANSKRIPSI KONPERENSI PERS PRESIDEN RI, SUSILO BAMBANG YUDHOYONO DI HANOI, 19 NOVEMBER 2006 SETELAH BERAKHIRNYA KTT APEC 2006 DI HANOI, VIETNAM

 

TRANSKRIPSI KONPERENSI PERS PRESIDEN RI,

SUSILO BAMBANG YUDHOYONO DI HANOI, 19 NOVEMBER 2006

SETELAH BERAKHIRNYA KTT APEC 2006 DI HANOI, VIETNAM

 

 

[Pembukaan]

 

Bismillahhirrohmanirrohim

Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh

Salam sejahtera untuk kita semua

Para wartawan yang saya cintai

 

Pada kesempatan yang baik ini, Saya akan menyampaikan penjelasan pers dengan harapan apa yang Saya jelaskan ini dapat dikomunikasikan kepada masyarakat luas, saudara-saudara kita di tanah air untuk mendapatkan pemahaman yang penuh dan benar atas hal-hal yang akan Saya sampaikan berikut ini:

 

Yang pertama, saya akan memberikan penjelasan dan merespons berbagai isu, pandangan dan tanggapan seputar rencana kunjungan Presiden Amerika Serikat ke Indonesia yang insya Allah akan dilaksanakan besok tanggal 20 Nopember 2006.

 

Sedangkan yang kedua adalah hasil dari pertemuan APEC yang dilaksanakan di Hanoi sejak kemarin dan hari ini dan apa relevansinya bagi Indonesia, terutama dari aspek pembangunan ekonomi lebih khusus lagi dari segi pengembangan investasi dan perdagangan.

 

Saudara-saudara sekalian, sebenarnya berkaitan dengan kunjungan Presiden Bush ke Indonesia kali ini tidaklah sesuatu yang bersifat luar biasa. Presiden Bush pernah berkunjung ke negeri kita pada tahun 2002 yang lalu di Bali. Pada saat itu Presiden kita adalah Ibu Megawati Soekarnoputri dan yang kedua, besok tanggal 20 Nopember. Kunjungan ini sendiri dilakukan oleh Presiden Bush dalam rangkaian kehadiran Presiden Amerika Serikat itu dalam pertemuan APEC. Lazim dan menjadi kebiasaan bagi para kepala negara atau kepala pemerintahan setelah mengikuti sebuah pertemuan puncak atau summit  di sebuah kawasan dilanjutkan dengan acara kunjungan di Negara-negara di kawasan itu. Sebagai contoh, kemarin Presiden Republik Rakyat Tiongkok sebelum ke Vietnam berkunjung dulu ke Pakistan dan India, kemudian Presiden Roh Moo- Hyun nanti bulan depan sebelum menghadiri East Asian Summit di Filipina akan berkunjung ke Negara kita, ke Australia dan Selandia Baru. Jadi ini wajar dilakukan oleh para kepala pemerintahan selesai atau sebelum menghadiri pertemuan puncak. Tetapi karena ada dinamika, sekali lagi perkembangan yang menurut Saya ada  yang wajar, ada yang tidak wajar di tanah air kita berkaitan dengan rencana kunjungan ini termasuk juga selama Saya berada di Hanoi dua hari ini ada beberapa pertanyaan dari kolega Saya, para pimpinan pemerintahan anggota APEC karena melihat tayangan televisi Indonesia yang juga ditangkap di Hanoi ini seperti ada gelombang protes, penolakan dan lain-lain. Perlu Saya jelaskan dengan nyata dan gamblang agar tidak menimbulkan persepsi yang keliru, sepertinya Indonesia tidak pernah aman dan tentu sangat merugikan bagi kita semua yang tentu ingin membangun kembali ekonomi kita dan banyak agenda  yang sedang kita lakukan kalau negara-negara sahabat, partner kita, mitra kita untuk bekerja sama di bidang ekonomi misalnya, takut dan khawatir datang ke Indonesia, tentu ini merugikan kepentingan bersama kita, atau kepentingan nasional kita.

 

Saudara-saudara, saya mengikuti terus apa yang berkembang di masyarakat luas, termasuk yang diliput oleh media massa, baik cetak maupun elektronik, beberapa isu ataupun komentar yang diangkat. Sebagai contoh, seolah-olah penyambutan kita terhadap kunjungan Presiden Amerika Serikat ini berlebihan. Ada yang mengatakan mengapa pengamanannya super super ketat. Lantas, ada yang bertanya, lewat sms, atau komentar ketika diwawancarai oleh pers, apa kepentingannya bagi Indonesia menerima kunjungan presiden Amerika Serikat itu. Terus ada lagi, kita didikte bagi Indonesia tidak dapat berbuat apa-apa. Bahkan, yang saya agak prihatin muncul di layar tayangan televisi ancaman oleh beberapa kalangan di dalam negeri terhadap tamu negara kita, keselamatan negara kita. Saya sendiri membayangkan kalau saya berkunjung ke negara sahabat, misalnya saya berkunjung ke Myanmar, atau berkunjung ke Timur Tengah, atau ke Amerika Serikatpun, terus saya diancam di sana secara fisik, tentu barangkali sebagai manusia biasa wajib bertanya ada apa gerangan. Dan oleh semuanya itulah, melalui penjelasan pers saya ini, saya mengajak saudara-saudara kita di seluruh tanah air untuk melihat masalah ini secara jernih, secara rasional, dan tidak kelewat emosional, dan kemudian, konstruktif, wajar. Dengan demikian, kita akan menjadi bangsa yang matang melihat sesuatu. Kalau matang dalam melihat sesuatu, maka kita biasanya tidak menjadi pihak yang merugi, karena segala sesuatunya tentulah ada manfaat yang dapat kita peroleh apalagi kerjasama dengan negara sahabat, bukan hanya dengan Amerika Serikat, dengan negara manapun yang selama ini kita jalin dan kita kembangkan.

 

Saudara-saudara,

pertama, kunjungan Presiden Amerika Serikat ke Indonesia sama dengan kunjungan ke Denpasar, Bali dulu adalah kunjungan balasan dari kunjungan kita ke Amerika Serikat. Yang ke dua tentu bertujuan untuk lebih meningkatkan kerjasama, persahabatan, kerjasama yang saling menguntungkan, tentu bagi kita, bagi Indonesia. Dan tentu, Amerika Serikatpun ingin dengan kerjasama itu mendapatkan keuntungan juga bagi bangsa Amerika Serikat. Kecuali itu, tidak ada agenda lain, tidak ada topik khusus, untuk sebagaimana yang dikhawatirkan orang  didiktekan kepada kita untuk mengikuti apa yang diinginkan oleh Amerika Serikat.

 

Saudara-saudara,

berbicara kerjasama, kita memiliki kerjasama yang luas dengan Amerika Serikat, hampir sama dengan kerjasama kita dengan Jepang, dengan Uni Eropa, dan mitra-mitra bersama kita yang lain, terutama dalam ekonomi, teknik, sosial, dan bidang-bidang kerjasama yang lain. Sebagai gambaran, Amerika Serikat adalah mitra dagang kita terbesar nomor dua. Pertama adalah Uni Eropa karena gabungan dari beberapa negara. Amerika Serikat nomor dua. Tahun 2005 yang lalu, volume perdagangan kita itu sekitar 14 milyar Dollar Amerika Serikat. Kita mengekspor 9,9 hampir 10 milyar Dollar. Kita mengimpor 3,9 milyar US Dollar, hampir 4 milyar. Dan 14 milyar Dollar itulah, kita surplus 6 milyar Dollar, setara dengan, berapa itu, 55 trilyun rupiah. Jadi kita punya luxury karena kita bisa memasarkan produk-produk dalam negeri kita ke Amerika Serikat dengan kisaran sekitar 55 trilyun. Artinya apa, dengan pasar yang besar ini, pertanian kita, industri kita, jasa kita tentu akan bergerak dan membawa keuntungan bagi ekonomi nasional kita.

 

Di bidang investasi Amerika Serikat investor nomor dua terbesar setelah Jepang. Hingga saat ini investasi sama-sama kita rasakan betul ketika Indonesia sebagai negara berkembang memiliki keterbatasan kapital, keterbatasan-keterbatasan modal kerjasama seperti ini tentu membawa keuntungan dan manfaat yang besar. Di bidang pendidikan, ada kerjasama yang berlanjut dan muncul keuntungan bersama yang tentunya membawa kemajuan. Banyak sekali putera-puteri Indonesia yang belajar di Amerika Serikat dan juga selama ini ada bantuan dan kerjasama yang signifikan.  

 

Di bidang kesehatan, Amerika Serikat juga menjalin kerjasama, membantu kita, misalkan dalam mengatasi flu burung dan penyakit-penyakit menular yang lain. Di bidang penanganan bencana alam, saya kira kita patut berterima kasih kepada Amerika Serikat dan negara-negara sahabat yang lain ketika dulu tsunami yang menghantam Aceh dan Nias. Bantuan kerjasama itu masih berlanjut. Demikian juga waktu Yogyakarta dan Jawa Tengah mengalami gempa bumi Amerika Serikat dan juga negara-negara yang memberikan bantuan yang cukup signifikan. Bahkan, sekarang sedang dimatangkan kerjasama kita dengan Amerika Serikat untuk membangun Early Warning System bagi tsunami. Jerman juga bekerja sama dengan kita. Jepang juga bekerja sama dengan kita. Manfaatnya jelas, kalau Indonesia punya Early Warning System untuk tsunami karena kita punya keterbatasan teknologi dan permodalan yang cukup besar maka dengan kerja sama itu kita bisa menyelamatkan lebih banyak lagi nanti saudara-saudara kita meskipun kita tidak berharap andaikata ada bencana Tsunami di waktu yang akan datang.

 

Di bidang energi, jalinan kerja sama sudah lebih dari 30 tahun dan tentunya sebagaimana yang saya sampaikan pertemuan kita kemarin di Hanoi bahwa Indonesia berharap kita dengan Amerika Serikat, kita dengan Jepang, kita dengan China, kita dengan negara-negara lain bisa mengembangkan alternative energy termasuk bio-energy, ada kesanggupan dari mereka untuk menjalin baik dalam penelitian pengembangan, dalam investasi dan lain-lain, ini tentu bagus karena kalau bio energy  berjalan lapangan kerja tercipta, pendapatan rakyat kita di daerah-daerah akan naik, kemudian kita tidak perlu membuang sia-sia BBM, bisa menghemat anggaran kita untuk kepentingan pendidikan dan kesehatan dan banyak hal yang dapa kita capai kalau kita mau mengembangkan bioenergy termasuk lingkungan yang masih bisa kita pelihara.

 

Di bidang pertahanan, kita sudah memiliki kerjasama teknik militer, kerja sama militer antara Indonesia dan Amerika Serikat dan sekarang difokuskan pada kerjasama membangun keterampilan untuk menghadapi bencana-bencana di Indonesia dan kerjasama sejumlah keterampilan operasional sebagai seorang militer yang bisa universal diterima negara manapun termasuk kerjasama dalam pengadaan sistem persenjataan. Ingat, meskipun Indonesia sekarang memperluas kerja sama dengan negara yang lain, kalau dulu terus terang sistem senjata kita, pesawat terbang, kapal laut, dan alat persenjataan utama itu banyak berasal dari Barat, Amerika, Eropa, sekarang sudah saya lebarkan kita juga bekerja sama dengan Rusia dan negara-negara lain tetapi karena kerja sama sudah puluhan tahun maka ada kerja sama kita dalam pengadaan sistem senjata itu.  Untuk ini harus kita pertahankan kelanjutannya untuk tidak mengganggu kesiagaan dari persenjataan kita.

 

Di bidang pencapaian Millenium Development Goals,  Saudara sudah tahu tahun 2015 kita ingin mencapai bersama-sama seluruh dunia untuk mengurangi kemiskinan, mengurangi pengangguran, mengurangi hal-hal yang menjadi karakter dari komunitas miskin di banyak negara. Nah, di sini ada kerja sama kita dengan Amerika Serikat yang berupa Millenium Challenge Cooperation, kerja sama bantuan kepada kita untuk mencapai sasaran-sasaran MDG itu. Kerja sama ini dilihat bahwa Indonesia secara gigih terus membangun pemerintahan yang baik, good governance, pemberantasan korupsi, dan arah dari kebijakan ekonomi kita dianggap baik, tepat yaitu yang mendorong pertumbuhan, tapi pertumbuhan dengan pemerataan. Yang ke dua mendorong penciptaan lapangan kerja juga pengurangan kemiskinan yang sering disebut dengan pro growth, pro jobs, dan pro poor itu mendapatkan pandangan  dari masyarakat internasional yang dianggap tepat. Di bidang tekonologi, termasuk ICT               (Information Communication Technology) juga berlangsung, dan ini sesuai dengan pertemuan APEC akan digalakkan dan digiatkan di waktu yang akan datang. Kita juga punya kerja sama dalam menghadapi transnational crimes, kejahatan lintas negara. Belum lama ini, Menteri Kehutanan kita menandatangani kerja sama di bidang pemberantasan illegal logging dan banyak sekali kerjasama kita untuk menghadapi kejahatan transnasional ini termasuk terorisme yang menjadi ancaman kita bersama. Negara kita beberapa kali dihantam oleh terorisme dan mudah-mudahan ke depan kita bisa pelihara dengan kondisi yang lebih baik lagi. Lantas, ada juga kerja sama kita dalam peace process yang sedang berlangsung di Aceh dewasa ini karena Amerika Serikat sangat jelas mendukung national unity kita, kesatuan nasional kita, mendukung integritas teritorial kita, tidak mendukung gerakan separatisme di negara kita  manapun, tetapi Amerika Serikat mendukung peace process yang kita laksanakan di Aceh dengan cara-cara yang kita tempuh sekarang ini insya Allah mengakhiri konflik yang lama berlangsung dan Aceh bisa kita bangun menjadi Aceh yang lebih baik lagi dalam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.  Itu adalah sejumlah contoh dari kerja sama kita yang sedang berjalan antara kita dengan Amerika Serikat. Jadi kalau ada yang bertanya anggota masyarakat kita, untuk apa, kepentingan kita apa, tidak ada, kerja sama yang kita ulas, ini contoh dan juga dengan negara-negara lain yang kita juga menjaga hubungan seperti kita dengan Amerika Serikat ini.

 

Saudara-saudara,

meskipun demikian, untuk tidak menjadikan salah pengertian, tidak selalu kebijakan Amerika Serikat itu segaris dengan kebijakan kita. Tidak selalu Indonesia klop dengan apa yang dilakukan oleh pemerintah Amerika Serikat. Ingat ketika 2-3 tahun yang lalu Amerika Serikat melakukan operasi militer ke Irak, Indonesia dengan gamblang dan jelas kita tidak setuju. Jelas sekali banyak negara-negara yang mendukung. Kita dengan terang-benderang tidak setuju karena menurut Indonesia, cara menyelesaikan masalah Iraq atau Timur Tengah tidak harus dengan operasi militer seperti itu. Kemudian, kalau masih ingat saudara-saudara ketika perang Libanon sedang berkecamuk waktu itu, kita lihat PBB masih belum mengambil keputusan, Dewan Keamanan PBB juga belum bisa menyepakati gencatan senjata, kita lantang, Indonesia, baik secara sendiri maupun dalam hubungan OKI, kita menyerukan, baik kepada PBB, kepada Amerika Serikat dan negara-negara besar, mari kita lakukan sesuatu yang nyata untuk menyelamatkan saudara-saudara kita di Libanon misalnya, sampai alhamdulillah, keluarlah resolusi Dewan Keamanan PBB seperti ini dan kita mengirim pasukan pemeliharaan perdamaian plus sejumlah langkah yang kita nyatakan. Terus terang waktu itu yang kita lakukan tidak sama dengan yang dilakukan oleh Amerika Serikat. Kita juga beberapa kali meminta kepada Amerika Serikat, negara-negara besar janganlah hanya melakukan langkah-langkah sepihak, unilateralisme. Kita menghimbau, kita mengajak, kita menyerukan multilateralisme. Ini semangat kita, semangat Perserikatan Bangsa-bangsa, semangat komunitas global untuk mengatasi masalah. Kita berbeda dalam banyak hal, bahkan di Washington DC tahun lalu ketika saya berkunjung, saya menyerukan kepada Amerika Serikat janganlah selalu menggunakan hard power di dalam menyelesaikan masalah di dunia, dalam merespons perkembangan global. Saya dengan jelas saya katakan bahwa banyak hal yang bisa kita selesaikan dengan soft power relations, bagaimana kita mendekati masalah-masalah dengan tanda kutip soft power seperti itu. Ini, terus terang kita sampaikan, dan dengan demikian bagi saudara-saudara yang khawatir kita didikte, kita tidak punya pendapat lain kecuali itu supaya dimengerti baik posisi kita di New York, di Jenewa, maupun di forum-forum yang lain, sering atau beberapa hal berbeda dengan garis politik dan kebijakan Amerika Serikat.

 

Saudara-saudara,

sebenarnya kita ingin kembali menjalankan politik luar negeri yang bebas aktif. Terus terang di waktu yang lalu ada kritik untuk kita sendiri dari kita, sepertinya kita pernah berpolitik kekiri-kirian. Pada periode berikutnya lagi dianggap kita berpolitik kekanan-kananan. Kita ingin, dalam dunia yang berubah dan makin berubah ini, persahabatan kerja sama dengan semua negara semua bangsa, sepanjang bangsa dan negara itu tidak memusuhi Indonesia. Dan kerjasama serta persahabatan itu membawa keuntungan bagi kita tentu wajib kita pelihara. Dalam konteks itulah paling tidak ketika saya mengemban amanah selama dua tahun ini, kita ingin benar-benar menjalankan politik luar negeri yang bebas dan aktif. ASEAN rumah kita yang paling dalam, Organisasi Konferensi Islam kita makin aktif, APEC sebagaimana saudara ketahui kita juga aktif, Perserikatan Bangsa-bangsa alhamdulillah tidak pernah dalam sejarah Indonesia mendapatkan kehormatan dan kepercayaan sekarang ini ada tujuh lembaga PBB sembilan tahun lagi kita berada di dalamnya dengan pemilihan antara lain yang prestisius yang menjadi incaran banyak negara anggota PBB adalah keanggotaan di Dewan Keamanan PBB, kita menjadi anggota tidak tetap. Kemudian Human Right Council, Indonesia dikenal dulu seolah-olah tidak pandai menghormati hak asasi manusia, kita bahkan sekarang menjadi anggota dan terpilih menjadi Human Right Council. Lantas, Peace Building Commission, ada sejumlah posisi yang menunjukkan bahwa sebenarnya kita memiliki standing yang baik. Dalam konteks itu semua, bahwa kita akan terus menjalankan politik luar negeri yang bebas dan aktif. Saudara tahu, kita menerima dengan senang hati, dengan penuh keakraban ketika presiden Iran berkunjung ke Indonesia. Presiden Ahmadinejad, kalau saudara ikuti, kontroversial, ada yang suka, ada yang tidak, barangkali Amerika Serikat tidak suka. Tetapi sahabat kita, kita punya hubungan diplomasi dan kerja sama, kita tentu wajib hukumnya sebagai tuan rumah menerima kunjungan beliau dengan baik. Saya berkunjung ke Myanmar, banyak yang, ngapain Indonesia berkunjung ke Myanmar, Myanmar kan begini begitu tetapi kita berhubungan baik, tujuan kita baik,  mengapa tidak, saya tetap berkunjung ke Myanmar. Sebenarnya kalau kita juga akan berkunjung ke Korea Utara dan Korea Selatan, tetapi tidak memungkinkan waktunya, karena kemelut apa namanya, masalah Korea dengan peluru kendali yang diluncurkan sedang memuncak-muncaknya sehingga menimbulkan masalah baru baik bagi Korea Utara bagi Korea Selatan dan lain-lain. Oleh karena itu kita tunda tetapi sesungguhnya saya sudah mengambil keputusan untuk berkunjung ke sana.

 

Di Kuba kemarin,  saya kira belum tentu negara Barat senang. Amerika Serikat senang, tetapi saya hadir karena memang Indonesia merupakan salah satu founding father dari Gerakan Non Blok dan forum itu baik untuk kita berada di dalamnya. Saya hanya mengangkat beberapa contoh saja bahwa kita ini benar-benar mengembangkan politik luar negeri yang bebas dan aktif. Dan semuanya diabdikan untuk kepentingan nasional kita, sekaligus juga komitmen kita kepada dunia untuk ikut melaksanakan ketertiban dunia, berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial demikian amanah konstitusi kita, pembukaan Undang-undang Dasar 1945.

 

Saudara-saudara,

kunjungan Presiden Bush di Bogor besok ini, pada saat perencanaan dan persiapan justru pihak Amerika lebih banyak menyerahkan, dan ingin mendengar bagaimana pandangan rencana pikiran dari Indonesia, pikiran saya. Oleh karena itulah, waktu memantapkan apa saja isu yang dibahas, maka yang saya sampaikan itu menjadi bahasan utama pertemuan kita nanti di Bogor. Kerja sama di bidang kesehatan, pendidikan, pencapaian MDG, penanganan bencana alam, teknologi, dan lain-lain itu adalah menjadi tema utama dalam pembahasan kita nanti. Jadi tidak benar kalau semua itu ditetapkan oleh Amerika, di dikte Amerika, sampai apa yang akan dibicarakan di Bogor. Saya jelaskan kepada rakyat Indonesia itu yang terjadi.

 

Saudara-saudara,

ada pandangan, mengapa pengamanannya kok ketat sekali. Saudara-saudara ini yang kebetulan bersama-sama saya di Hanoi dua hari dua malam ini coba lihat, dari presiden perdana menteri yang ada, mana yang paling ketat pengamanannya. Presiden Bush, kan? wajar, mobil dikerahkannya berapa. Pengamanan saya sangat sederhana. Pengamanan Perdana Menteri Malaysia sangat sederhana. Dan juga kepala negara, kepala pemerintahan yang lain mengapa, karena memang barangkali tingkat ancaman keselamatan bagi Presiden Amerika Serikat dianggap tinggi. Sedangkan pengamanan ketat, super ketat, tidak ketat itu juga berkaitan dengan tingkat ancaman, kepada siapa yang diamankan. Itu pertimbangannya apa yang kita lihat di Hanoi. Kunjungan Presiden Amerika Serikat dimanapun juga ya begitu. Waktu berkunjung ke Bali, ya begitu. Jadi nanti kalau ke Bogor terlihat lebih tinggi profil-nya, karena itu. Tetapi yang lainnya universal, saya kalau berkunjung ke luar negeri juga ada yang universal. Saya berkunjung ke provinsi-provinsi saya juga ada pengamanan VVIP presiden dan wakil presiden, ya seperti itu. Jadi tolong, dilihat konteksnya. Apalagi, ya meskipun saya katakan tadi kita harus bisa menahan diri. Ada tayangan di televisi akan diganggu, akan disabot kalau perlu dengan  serangan-serangan fisik, terus terang bagi pengamanan Presiden Amerika Serikat itu kan dijadikan input meskipun seperti saya sampaikan kita akan kelola semuanya kerja sama diperlukan, tetapi mari kita kelola dengan sebaik-baiknya tetapi  itu  menjadi faktor juga yang  tentu pengamanan itu kelihatan lebih ketat dari biasanya.

 

Dan begini. Kalau terjadi sesuatu, saudara-saudara. Ada kepala negara, kepala pemerintah, bukan presiden Bush, siapapun datang ke Indonesia terjadi sesuatu yang tidak kita inginkan, dunia akan menyalahkan negara kita, bangsa kita, pemerintah kita. Saya kira, tentu tidak ingin saudara-saudara kita di seluruh tanah air dilihat oleh dunia sebagai bangsa yang tidak bisa menjamin keamanan kunjungan kawan, kepala negara dari negara-negara sahabat. Sama dengan kalau saya berkunjung ke negara lain terjadi apa-apa, seperti apa perasaan dunia dan perasaan bangsa kita sendiri. Oleh karena itu tidak berlebihan, bisa dijelaskan mengapa  lebih ketat seperti itu karena dengan tujuan kita semua berjalan dengan baik, tertib dan aman.

 

Yang terakhir adalah unjuk rasa. Saya memahami sebagian dari saudara-saudara kita menyampaikan ketidaksenangannya, protesnya, pandangan yang berbeda terhadap kebijakan pemerintah Amerika Serikat. Dalam demokrasi hal ini  wajar. Di Amerika Serikat sendiri ada yang tidak sesuai dengan pandangan Presiden Bush. Di negara-negara lain juga demikian. Tetapi yang penting dan sangat jelas kepada saudara-saudara saya sampaikan kepada siapapun kalau saudara melakukan unjuk rasa, lakukanlah dengan tertib. Patuhi undang-undang,  hukum dan peraturan yang berlaku. Sebab kalau tidak, kalau ada satu-dua orang satu dua tiga kelompok yang ingin melakukan sesuatu dengan tujuan untuk terjadi kerusuhan, huru-hara, sesuatu yang menggoncangkan keadaan entah Jakarta, entah Bogor apalagi negara kita, yang merugi adalah kita sendiri. Bertahun-tahun kita memulihkan kondisi dalam negeri, kita bangun perlahan-lahan iklim di negara kita ini agar kita bisa bangkit kembali, membawa kembali ekonomi kita setelah krisis, alangkah sayangnya kalau itu rusak oleh sesuatu yang sebenarnya tidak harus begitu. Prinsip bagi saya unjuk rasa itu bagian dari demokrasi. Dalam batas tertentu saya bisa memahami mengapa ada pikiran-pikiran protes dan ketidaksenangan itu, tapi sekali lagi marilah kita bertanggung jawab untuk tidak justru yang rugi kita sendiri. Kunjungan itu hanya beberapa jam. Kunjungan tiap kepala negara satu dua hari selesai. Tapi kalau ada apa-apa di negeri kita, berminggu-minggu, berbulan-bulan dampaknya akan sangat luas. Mari kita jernih, dengan rasional dengan sadar melihat masalah itu. Dengan demikian, kita akan sekali lagi selalu mendapat hal yang baik dari kerja sama kita dengan semua negara sahabat sebagaimana yang berlangsung antara kita dengan Amerika Serikat.

 

Menutup dari penjelasan saya yang pertama ini saudara-saudara,   

Para wartawan yang ikut saya, para Menteri, para Pimpinan dunia usaha, Vietnam kita lihat dari tahun ke tahun perkembangannya seperti ini, luar biasa.  Di China, kemarin kita pergi ke Nanning, seperti itu. Malaysia, negara sahabat kita luar biasa dan negara-negara lain. Mengapa?. Mari kita jujur. Karena negaranya aman, negaranya stabil, negaranya tertib. Itu. Semua bisa dihitung, semua bisa dikembangkan, semua bisa dibangun, berapapun modalnya, faktor-faktor lain tapi kalau negaranya rusuh, tidak stabil, gangguan keamanan di sana-sini, tidak pernah kita bisa membangun. Berpulang kepada kita sendiri, saudara-saudara semua, apakah kita ingin menciptakan Indonesia sebagai negara yang tenang, aman, tertib, stabil, dan kemudian bisa  dibangun, atau sebaliknya. Demokrasi penting, keterbukaan dan kebebasan kita dorong. Tidak ada di antara kita termasuk saya yang ingin mengundurkan atau mengganggu kebebasan, keterbukaan dan praktek kehidupan demokrasi. Tetapi ingat, di negara demokrasi manapun, termasuk  demokrasi liberal yang ada di negara-negara lain, mereka memerlukan stabilitas, mereka memerlukan keamanan. Mereka memerlukan ketertiban hukum.  Mari kita ambil pelajaran ini semua , dengan demikian, tidak terus saling salah - menyalahkan mengapa kita tidak terus bergerak dengan kecepatan yang diharapkan makin tinggi. Mari sekali lagi kita dengan jernih melihat masalah negeri kita, melihat sekeliling kita, melihat dunia, dengan demikian pilihan kita menjadi tepat. Sikap kita menjadi pas dalam melihat semua masalah itu.

Demikianlah saudara-saudara penjelasan saya menyangkut yang pertama, terus memberikan penjelasan yang lebih utuh dari Indonesia.

 

Saudara-saudara,

kita lakukan di Hanoi ini, di samping menghadiri pertemuan sebelumnya retreat itu saya melakukan pembicaraan cukup serius substantif dengan Perdana Menteri Jepang, dengan Presiden Korea, sore ini dengan Perdana Menteri Papua New Guinea, dan sejumlah pemimpin, Malaysia, Singapura juga bisa di sini apa yang bisa kita lakukan buat kerja sama kita, terutama ekonomi, perdagangan, investasi, energi dan lain-lain. Tentu semua untuk kepentingan negara kita. Di samping itu, sejumlah hasil yang dilahirkan oleh pertemuan pimpinan ekonomi APEC selama dua hari di Hanoi ini. Itu hasilnya sudah bisa dibagikan. Kemudian bahan-bahan yang sudah kita siapkan juga sudah kita perbanyak nanti bisa didistribusikan oleh saudara Andi Malarangeng atau saudara Dino Patti Djalal. Tetapi yang jelas begini, ini juga saya sampaikan kepada seluruh rakyat Indonesia, supaya tahu mengapa dalam APEC ini semua hadir. Perdana Menteri Jepang hadir, Presiden Hu Jintao hadir, contohnya Presiden Rusia hadir, Presiden Amerika Serikat hadir, Australia, ekonomi-ekonomi yang lebih besar termasuk ASEAN, termasuk negara-negara yang lain karena di sinilah forum yang paling baik untuk saling memperjuangkan kepentingannya dalam kerja sama regional, dalam kerja sama APEC kita juga punya kepentingan. Ini saya jelaskan, sehingga jangan ada pertanyaan apa itu kepentingannya Presiden Indonesia hadir dalam pertemuan APEC. Tentu ada. Dua hari di sini tidak mungkin tidak melakukan apa-apa dan tidak memperjuangkan sesuatu, tidak mengalirkan sumber-sumber yang bisa meningkatkan kemajuan dan pembangunan di negara kita.

 

Yang pertama, ini sebagai background, apa yang kita lakukan adalah kita punya kepentingan nomor satu, akses kepada pasar global dan regional. Bayangkan kalau ekspor kita tidak kemana-mana, kemana kita jual, kita pasarkan industri pertanian dan jasa dalam negeri kita. Melalui forum ini, kita bisa mencari peluang, mengembangkan pasar yang lebih luas dan lebih aman. Tentu dengan kondisi yang baik untuk kita, termasuk perjuangan gigih kita memasarkan produk-produk pertanian. Yang penting juga yang menyangkut kepentingan kita yang ke dua, kita ingin Doha Development Agenda, putaran Doha yang macet ini, bisa segera dicairkan kembali. Sebab kalau tidak kita selamatkan, tidak kita gulirkan kembali, kepentingan negara-negara berkembang terus terang, termasuk Indonesia akan sangat terganggu. Kita adalah pihak yang merugi. Oleh karena itulah kita ingin ada suara APEC yang keras, dengan lebih fleksibel ada kompromi take and give bisa segera melanjutkan putaran Doha Development Agenda dengan demikian terutama produk-produk pertanian kita bisa pasarkan sambil melindungi juga petani-petani kita di dalam negeri terutama special product yaitu beras, gula, kedelai dan jagung. Ada berapa produk kita. Ada seperti itu dengan demikian kita bisa di satu sisi punya akses, di sisi lain kita bisa melindungi kepentingan petani-petani kita. Kepentingan ke tiga yang juga kita bahas dalam APEC ini adalah tentu kita mengharapkan investasi ini jangan hanya mengalir ke China semua, ke India semua, ke Vietnam semua, ke Rusia semua, ke Malaysia. Kita ingin di samping investasi dalam negeri juga investasi dari luar negeri. Nah di sinilah kita saling bekerja sama dengan menyampaikan pada para pimpinan APEC tadi apa yang dilaksanakan Indonesia. Kita membangun satu pembangunan infrastruktur agar lebih kompetitif. Kita juga mengembangkan energi termasuk bioenergi. Kita mengembangkan industri dengan demikian harapan kita ada aliran investasi untuk kepentingan dan kemajuan bersama. Yang ke empat kepentingan kita adalah ada perbincangan ketimpangan antar ekonomi suatu negara dengan negara lain termasuk di antara negara APEC, 21 anggota APEC. Oleh karena itulah kita dalam kerja sama ini ingin betul-betul agar disparitas sosial ekonomi sesama anggota APEC itu bisa kita kurangi dengan kerja sama yang bagus sehingga ada kesetaraan atau level playing field yang makin bagus. Maka kita sesuai dengan tujuan Bogor ingat, perjanjian Bogor 1994 dulu ingin menuju ke perdagangan dan investasi yang bebas. Kita periksa dulu dengan level yang kita bangun. Dalam konteks itulah kita perlu ikut dalam pertemuan APEC seperti ini.  Kepentingan yang ke lima kita punya pengalaman pahit gonjang-ganjing krisis 1998. Tahun lalu ketika harga minyak meroket kita punya persoalan dengan nilai tukar likuiditas dan lain-lain. Oleh karena itu kita perlu memikirkan yang disebut dengan physical sustainable  rate  satu kerangka, satu sistem iklim bekerja sama apabila sebuah negara mengalami kesulitan finansial, ada proses untuk saling membantu. Nah di sini kita bisa merumuskan bagaimana sebetulnya cooperation untuk menghadapi gangguan atau shock yang kita sebut dengan monetary dan financial crisis tadi.

 

Yang ke enam kepentingan kita melalui APEC ini kita ingin betul menguatamakan ICT (Information and Communication Technology)  kita makin bagus. Mengapa, kalau kita tidak makin berkembang, penguasaan ICT kita, tertinggal kita dengan negara sesama APEC dan yang non-APEC. Produktivitasnya, misalnya, efisiensinya, daya saingnya, kita belum punya ekonomi yang luas bagaimana bisa bersaing. Dalam konteks ini, kita juga ingin mendapatkan kemajuan atau resources  dari itu semua.

 

Yang berikutnya lagi adalah yang ke tujuh, kejahatan transnasional makin berkembang, masih tetap eksis. Kita perlu kerja sama dengan negara tetangga misalnya Singapura, Malaysia, Thailand, Filipina, Australia, dan lebih luas lagi dengan Jepang dan negara- negara yang lain, bagaimana kita saling bekerja sama mencegah atau  memerangi kejahatan transnasional, illegal fishing, illegal logging, penyelundupan narkotika, terorisme dan lain-lain. Di sinilah kita pahami bersama, perlunya capacity bulding, perlunya kerja sama intelijen, kerja sama kepolisian dan lain-lain.

 

Ini yang kedelapan, ini sangat penting, korupsi bukan hanya menjadi permasalahan nasional, juga menjadi permasalahan dunia, transboundary crime, oleh karena itulah kita gigih karena banyak masih ada pelarian dari Indonesia yang bawa uang rakyat, uang negara itu berdomisili di negara-negara lain. Kita berpikir, tidak pernah menyerah untuk bisa membawa mereka kembali, membayar uang yang dibawa kabur, dan mungkin malah digunakan usaha di negara-negara lain. Oleh karena itulah melalui APEC ini kita ingin terus mutual assistance, ekstradisi dari mereka-mereka yang harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di Indonesia kemudian pelacakan assetnya, taruh di bank mana, negara mana, dan bagaimana mereka perginya dan lain-lain. Kita punya kepentingan itu.

 

Yang ke sembilan kepentingan kita di APEC adalah mengurangi avian flu dan penyakit-penyakit menular yang lain. Kita ingin kapasitas kita ditingkatkan, bantuan dan kerja sama, tetapi juga sekaligus bantuan dan kerja sama dengan negara sahabat. Flu burung, kita menjalin kerja sama dengan Singapura dan Amerika Serikat sebagai contoh, yang lain-lain kita juga menjalin kerja sama dengan negara-negara APEC yang lain.

 

Yang ke sepuluh adalah menangani bencana alam, mencegah korban yang besar dari sebuah bencana alam. Inilah yang terus kita lakukan di samping selama ini terus terang kita berterima kasih kepada dunia. Jangan kita menjadi bangsa yang tidak bisa berterima kasih, tidak pandai berterima kasih. Marilah, karena orang luar negeri juga banyak berterima kasih kepada Indonesia dalam banyak hal. Jangan dilupakan mereka juga membantu kita ketika  ekonomi kita pernah krisis, bencana alam dimana – mana dan lain-lain. Oleh karena itulah, kita bekerja sama dalam menangani ini termasuk membangun early warning system, kerja sama tekonologi dan lain-lain.

 

Yang ke sebelas kepentingan kita adalah bagaimana energy security bisa dibangun dan tadi dalam Retreat II saya sampaikan dengan panjang lebar pandangan Indonesia perlunya kita bersama-sama mengembangkan bio-energy,  yang cocok untuk semuanya. Kemudian yang kita kerja samakan investasinya, tekonologinya, kemudian bagaimana resources yang ada, itu bisa kita daya gunakan dengan baik.

 

Yang ke dua belas kita punya kepentingan UKM (Usaha Kecil dan Menengah) ini janganlah dipinggirkan. Jangan sampai kerja sama APEC ini hanya kerja sama antara pemerintah saja. Atau kerja sama antar pengusaha-pengusaha besar saja, perusahaan-perusahaan besar, bisnis-bisnis besar. Kita harus pastikan ke depan APEC ini harus mengangkat Usaha Kecil dan Menengah. Itulah yang kita rumuskan dengan baik bagaimana kemitraan usaha besar-usaha kecil antar negara APEC dalam mendayagunakan dan meberdayakan lebih tepat small and medium enterprises. Di sini kita bahas bagaimana langkah-langkah untuk itu.

 

Kemudian kepentingan kita yang nomor tiga belas, kerja sama di bidang tourism dibahas di sini. Ingat, karena peristiwa pemboman di Bali dan gangguan keamanan lima tahun terakhir ini terus terang pariwisata di Indonesia menurun. Kita kehilangan sumber devisa yang besar. Kita kehilangan sumber pendapatan ekonomi yang besar. Mari kita hidupkan kembali dengan cara  bikin stabil, bikin aman negara kita dan mari kita galang kerja sama, promosinya, transportasi udaranya, dan lain-lain yang bisa kita kembangkan.

 

Yang ke empat belas adalah ternyata APEC sepakat kita perlu membangun komunitas yang harmonis, yang rukun tetapi juga yang kompetitif. Ini semangat kami semua, semangat dari pemimpin APEC tentunya kita juga harus bisa mewujudkan di tanah air kita.

 

Dan yang terakhir, ke lima belas, saudara-saudara, terus terang meskipun hanya dua hari, saya dengarkan usulan yang disampaikan negara-negara sahabat atau pemimpin dunia itu satu demi satu saya simak baik-baik, saya baca, saya ingin Indonesia ini dimana letaknya. Tahun ini dimana, tahun lalu dimana, tahun sebelumnya lagi dimana. Ini penting. Jangan sampai kita tidak tahu bahwa kita ini tertinggal. Jangan sampai kita tidak tahu negara lain sudah berkembang, mengembangkan banyak hal kita jalan di tempat. Jangan sampai negara lain tahu bahwa yang bikin ekonomi kita lumpuh karena stabilitas yang tidak baik, teknologi yang tidak berkembang, investasi yang tidak kunjung datang, pemerintahan yang bobrok, korupsi yang merajalela, dan kita tidak tahu, seolah-olah negara kita baik-baik saja. Maka, kepentingan nomor lima belas yang saya laksanakan, saya bisa membandingkan, saya melakukan istilahnya best marking, apa yang menjadi keunggulan Malaysia, mengapa Vietnam tumbuh seperti ini, China dan lain-lain. Oleh karena itu, saya ingin pastikan, bahwa iklim di negeri kita, daya saing di negeri kita,  terus kita bangun lebih bagus. Iklim investasi makin bagus. Kebijakan kita, pemerintah pusat, pemerintah daerah, undang-undang, seluruh aparatur negara juga bagus. Saya mengajak semua kolega saya, para pimpinan lembaga negara, MPR, DPR, DPD, Mahkamah Konstitusi, Mahkamah Agung, BPK, dan semua lembaga-lembaga negara termasuk jajaran pemerintahan, para menteri, gubernur, bupati,  walikota, mari, terus kita lakukan pembenahan, pembaharuan, perubahan di negeri kita semua bidang, semua sektor ke arah yang lebih baik. Kalau tidak, dalam forum seperti ini Indonesia bisa kehilangan harga diri, kehormatan, kita karena ternyata kita masih tertinggal, kita masih jauh dari apa yang kita tuju. Sementara negara-negara lain sudah lebih gigih, lebih bersatu, lebih kompak untuk membangun hal-hal yang mereka bangun untuk kemajuan negara kita.

 

Itulah yang ingin saya sampaikan saudara-saudara.

 

[Penutup]

   

[ Welcome to speech ] [ Go Back ]
Indonesian Embassy - Add: 50 Ngo Quyen str. - Tel: (84-4) 8253353, 8257969, 8256316 - Fax: (84-4)8259274 - Email: komhan@hn.vnn.vn
Contact Us | Search Engine
Copyright © 2004 Indonesian Embassy Hanoi, Vietnam